Bahwa Harapan Bukan Beban Melainkan Doa Untuk Kesuksesan

Tak ada pilihan yang sempurna, tapi kita wajib memilih yang terbaik. Itulah yang sering ayah saya ingatkan, kepada saya. Pergi merantau adalah bukan hal yang baru yang saya alami. Sejak sekolah menengah pertama, saya telah merantau untuk belajar mandiri. Tetapi kali ini adalah perantauan saya yang terjauh sampai saat saya tulis karya ini. Untuk pertama kalinya, saya berangkat untuk ikut di sebuah maskapai LION AIR. Ini merupakan keputusan yang sangat sulit untuk saya.  Disaat adik saya sedang melanjutkan kuliah S1, sayapun harus membebani orang tua untuk melanjutkan kuliah D4 ini. Sempat terfikir di benak saya untuk bahwa saat ini saya harus membantu orang tua untuk membantu masalah keuangan. Akan tetapi ayah yang sangat saya banggakan tetap mendorong saya karena ingin melihat anaknya tak sesulit Beliau menjalani hidup.

Bukan hanya orang tua, orang-orang sekitar sangat mendukung saya untuk melanjutkan karena mereka punya banyak harapan untuk anak mereka. Sempat hal ini sangat membebani saya. Akan tetapi berkat doa dan petunjuk Tuhan, akhirnya saya mengerti bahwa itu adalah doa untuk mencapai kesuksesan. Selama outbond di seamolec, saya benar-benar merasakan adaptasi yang sangat dipercepat. Hal ini menurut saya adalah hal yang sangat positif. Dari pengalaman, permainan, dan hal-hal unik yang lainnya, kami belajar untuk mengenal lebih dekat secara lebih cepat. Kerjasama kamipun dilatih untuk mempermudah jalan kami agar bisa mencapai tujuan dengan lancar.

Pada awal kegiatan ini, kami saling berkenalan. Perasaan canggung masih sangat terasa. Akan tetapi, berbagai permainan yang diberikan oleh sang pelatih Pak Stanly membuat kami lebih cepet untuk akrab. Adaptasi yang biasanya kami lakukan secara bertahap, bisa dilatih oleh Pak Stanly hanya dalam waktu dua hari. Permainan yang paling berat yang saya rasakan adalah “selling point”. Permainan ini bermaksud untuk melatih mental kami para mahasiswa untuk menghilangkan rasa malu dan rasa takut tidak diterima dan gagal menawarkan sesuatu. Disini kami benar-benar merasakan bagaimana rasanya mencari rupiah sendiri.

Dalam dua hari tersebut, kami benar-benar dilatih untuk melakukan kerjasama, percaya dan lain sebagainya. Pelatihan tersebut ditujukan hanya untuk mempercepat adaptasi dan pengenalan masing-masing karakter kami. Dari perjalanan dua hari tersebut, rasa persahabatan, dan saling memiliki mulai muncul. Dengan berbagai cara masing-masing kelompok semangat untuk berusaha memenangkan permainan. Rasa ingin membanggakan kelompok itulah yang mendorong setiap individu melakukan yang terbaik untuk kelompoknya. Terimakasih untuk teman-teman kelompok kuda yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk memimpin kalian. Tuhan telah menjawab usaha kita. Karena Tuhan, dan semboyan “together we can!” kita bisa melakukan hal tersebut.

Meninggalkan orang tua dan jauh dari rumah mungkin bukannlah pilihan yang sempurna untuk dijalani. Akan tetapi saya yakin, ini adalah pilihan yang terbaik untuk diri saya dan orang-orang yang saya sayangi agar nantinya bisa mengangkat kehidupan keluarga dan orang- orang yang saya sayangi. Terimakasih SEAMOLEC.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s