Rupiah Pertamaku (Kebanggaan Terhadap Sang Ibu)

Image

Ini adalah kisah seorang anak yang terlahir di dengan kondisi keluarga yang berjuang keras bukan hanya untuk keluarganya saja. Ya … saya seorang anak laki-laki yang terlahir dari seorang ibu yang sangat luar biasa. Nama saya Widya Artana biasa dipanggil Artha. Seorang anak yang terlahir di bulan maret tahun 1991. Ayah saya seorang kepala sekolah dasar di sebuah desa terpencil bernama “Datah” di Bali timur. Ibu saya adalah pemilik warung yang menjajakan makanan ringan untuk teman-teman, tepatnya anak-anak sekolah dasar.

Kisah ini adalah sebuah kisah nyata, bukan rekayasa. Kejadian ini membuat saya sadar akan pentingnya sesuatu yang kita anggap sangat kecil, tapi bisa bersampak sangat besar. Terkadang kita berfikir bahwa uang recehan yang kecil itu kurang berarti. Akan tetapi, Ibu yang sangat saya banggakan berhasil meyakinkan saya untuk menghargai setiap lembaran ripiah yang telah Tuhan berikan kepada saya.

Saat itu saya sedang berada di kelas 3 SD. Saat itu, saya berfikir bahwa uang 100 rupiah tidaklah ada gunanya dibandingkan dengan uang 10.000 saat itu. Mungkin umur dan pengalaman yang masih seumur jagung yang menyebabkan saya berfikir seperti itu. Sampai suatu saat, ibu saya ingin saya membantu dengan ikut membuat sampai memasarkan apa yang biasa ibu saya jual untuk teman-teman sekolah saya.

Klepon, begitulah nama dari makanan yang yang biasa dibuat oleh ibu dan saya. Bahannya sederhana tepung, gula, pewarna makanan hijau, gula aren dan beberapa bahan” lainnya. Caranya cukup sederhana, berikut adalah resep dari klepon bali yang sangat enak.

Bahan:

  • 1/2 bh kelapa setengah tua, kupas, parut kasar
  • 1/4 sdt garam
  • 1 lbr daun pandan
  • 250 ml air hangat
  • 30 lbr daun suji, tumbuk halus
  • 3 tetes pewarna hijau
  • 225 gr tepung ketan
  • 40 gr tepung kanji
  • 1/4 sdt garam
  • 125 gr gula Aren, sisir halus
  • 200 gr gula Aren, rebus dengan air aduk2 hingga menjadi kental

Cara Membuat:

  1. Kukus kelapa parut, garam dan daun pandan selama 15 menit, sisihkan.
  2. Tuang sebagian air hangat sedikit demi sedikit ke dalam daun suji sambil diuremas2 lalu saring dan tambahkan pewarna hijau.
  3. Aduk tepung ketan, tepung kanji dan garam. Tambahkan air daun suji dan sisa air hangat sambil diulenin hingga rata.
  4. Ambil 1 sdt adonan klepon, tambahkan gula Bali lalu bulatkan.
  5. Rebus klepon di dalam air mendidih hingga terapung, angkat. Sajikan dengan taburan kelapa dan lelehan gula Bali  diatasnya.

Untuk 5 porsi

“Nak kamu ikut jualan ya …..” begitu ibu saya meminta kepada saya. “Jualan apa Bu …? ”. Tanya saya. “Ni… ini ada klepon mulai besok, kita buat kleponya sama-sama, nanti untungnya buat kamu beli sepeda”. Kata ibu saya. “Wah… Yang benar ni Bu … ? Iya bu saya mau”. Tanpa pikir panjang saya mengiyakan apa yang ibu saya inginkan karena membayangkan akan punya sepeda. Mulai besoknya, saya dibangunkan lebih pagi dari biasanya karena harus membuat klepon itu. Sulit, malas, dan perasaan lainnya muncul menghampiri saya. Plung … plung … plung … suara klepon mentah mulai dijatuhkan ke panci yang berisi air panas setengahnya. Kleponpun mulai direbus. Satu per satu klepon itu mulai matang. Setelah itu, sayapun mulai bersiap-siap untuk ke sekolah. Saya sengaja berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya.  Karena, untuk dapat mempublikasikan ke teman-teman sekelas saya bahwa saya menjual klepon.

“Teman-teman …. Mulai hari ini,  .. setiap jam istirahat, saya jualan klepon  … itu buatan saya sendiri lho  … dijamin enak … nanti beli ya … hehehe ” kata saya. “Aku minta gratis satu ya … ?? ” pinta salah satu teman saya. “Iya … iya … tapi Cuma satu  … itu untuk nyoba HANYA SATU! … ” tegas saya. Teng .. Teng.. Teng  … tanda semua siswa untuk memasuki kelasnya masing-masing. Teman-teman saya dan saya berlarian masuk ke dalam kelas. Tak lama kemudian Pak Guru kami datang. Kamipun belajar dengan memperhatikan Bapak guru kami di depan kelas yang tengah menerangkan dengan seriusnya.

Setelah 2 jam, belpun berbunyi kembali tanda istirahat telah mulai. Saya berlari menuju rumah yang hanya bersebrangan jalan dengan sekolah dasar tempat saya menimba ilmu. “Ibu … ibu…… kleponya mana ? saya mau jual sekarang … ” pinta saya pada ibu saya. “Ini nak ….” Sahut ibu saya. Setelah mengambil klepon itu, saya kembali ke sekolah untuk mnjajakannya ke teman-teman saya. Hari itu saya membawa satu kotak klepon. Dan terjual semuanya pada istirahat ke-dua. Hari itu, saya mendapat berjualan senilai 2000 rupiah. Dan itulah rupiah pertama saya, yang tak akan pernah saya lupakan. Hari-hari berikutnya tetap saya lakukan hal itu.  Hingga ketika saya kelas 5 sd, saya memiliki tabungan hingga sekitar 250.000. Disanalah saya membeli sepeda pertama saya. Ibu saya telah mengajarkan banyak hal dengan cara ini. Dari seluruh cerita tadi, akhirnya saya sadar bahwa hal kecil dapat menyempurnakan hal-hal besar. Bahwa perjuangan itu sangat membutuhkan yang namanya waktu, pengorbanan, dan paling penting adalah kesabaran.

Saya berharap tulisan saya ini bisa memberikan sedikit makna tentang pentingnya menabung, dan meneladani seorang ibu yang sangat luar biasa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s